
SUNMARINDO.COM (Yogyakarta) – Indonesia memiliki beberapa sentra industri perhiasan perak, dan masing-masing sentra memiliki karakteristik tersendiri. Sebagai contoh di Kotagede, Yogya dikenal dengan kualitas kerajinan ukiran peraknya.
Ukiran-ukiran tersebut biasanya diaplikasikan untuk peralatan makan-minum terbuat dari perak maupun perhiasan-perhiasan perak ukuran besar. Motif-motif ukiran antara lain bersumber dari motif bunga, daun ataupun dari Kraton Yogyakarta yang biasanya di setiap motif terdapat makna dan filosofis tertentu.
Demikian dijelaskan Agus Budiyanto SSn saat menjadi nara sumber bimbingan teknis (Bimtek) Perhiasan Perak pada hari pertama di Gedung Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Jalan C Simanjuntak Terban Yogyakarta, Selasa (20/6/2023).
Kepada 20 peserta Bimtek Perhiasan Perak tersebut, Agus mengungkapkan pula, pemilik usaha kerajinan perak di Kotagede Yogyakarta pada era 1930 hingga 1970 banyak membuat peralatan makan-minum berbahan perak.

Foto : Agus Susanto
“Selanjutnya, mulai era 1980-an banyak membuat perhiasan berbahan perak. Namun regenerasinya kurang menggembirakan, sehingga perlu adanya berbagai kegiatan terkait regenerasi atau lestarinya kerajinan perak,” ungkap Agus.
Praktisi serta pelatih pembuatan produk kerajinan perak yang juga lulusan Seni Kriya Logam, ISI Yogyakarta ini menjelaskan, pihaknya pun membuka pelatihan pembuatan kerajinan perak di Kotagede Yogyakarta. Mayoritas yang tertarik mengikutinya malah warga dari luar negeri maupun pelajar/mahasiswa dari sekolah internasional.
“Maka, kegiatan pelatihan atau Bimtek Pehiasan Perak seperti sekarang ini menurut saya penting dilaksanakan secara berkala. Semoga bisa banyak melahirkan para perajin perak baru dan yang lama tetap semangat menerjuninya,” harap Agus.
Keunggulan kerajinan perak, sebutnya, hasil akhirnya mempunyai nilai keindahan atau estetik tinggi, kualitas logamnya bagus dan harga terjangkau. Sedangkan jenis-jenis kerajinan perak berdasarkan cara pembuatannya, dapat dibedakan menjadi tiga.
“Yaitu perak buatan tangan (handmade), buatan mesin (machinery) dan cetakan (casting). Khususnya handmade merupakan cikal bakal industri perak di Kotagede Yogyakarta,” tandas Agus.

Sementara itu salah satu panitia Bimtek Perhiasan Perak tersebut, Heri Karuniawan ST mengungkapkan, Bimtek diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Kota Yogyakarta.
“Pelaksanaan Bimtek tiga hari, antara lain ada teori, pengenalan bahan dan peralatan, praktik membuat liontin, anting dan cincin dari perak,” papar Heri.
Adapun peserta Bimtek tersebut, lanjut Heri, 20 IKM yang sudah diseleksi dari 30 pendaftar. Persyaratannya antara lain, ber-KTP Kota Yogyakarta, termasuk IKM yang tergabung dalam sentra maupun non-sentra dan punya motivasi kuat untuk ikut bimtek dari awal sampai akhir.
Sedangkan salah satu peserta, Boni Tri Utomo dari Ngampilan Yogyakarta mengatakan, ia semangat untuk mengikuti Bimtek Perhiasan Perak tersebut, antara lain karena ingin bisa melestarikan atau nguri-uri keberadaan kerajinan perhiasan perak.“Semoga suatu saat ilmu dan pengalaman dari ikut Bimtek Perhiasan Perak ini bisa juga saya tularkan kepada orang lain,” kata Boni. (AGS)
