SUNMARINOINDONESIA.COM (YOGYAKARTA) – Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk memaksimalkan kunjungan wisata dari kapal pesiar internasional. Negara beribu kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke ini memililiki garis pantai terpanjang sedunia dengan pemandangan yang sangat indah.
“Pantai di Indonesia banyak yang bagus. Tak usah jauh-jauh ke Raja Ampat atau Labuhan Bajo, sepanjang Pantai Selatan saja pemandangannya sudah luar biasa. Ada yang berpasir putih, ada yang dilengkapi bukit karang, bahkan ada pula yang bersanding dengan hijau bukit disalah satu sisinya. Destinasi pantai yang jauh lebih bagus bila dibanding pantai di negara lain seperti di Mexico, Jamaica, Bahama. Ini sangat menarik untuk di kunjungi dengan kapal pesiar,” ujar Ariyanto, Direktur LPK Sun Marino Indonesia.

Ia mengatakan bahwa upaya mendongkrak kunjungan wisata dari kapal pesiar sangat menguntungkan bagi negara maupun masyarakat. Kapal pesiar kecil jumlah penumpangnya bisa seribu ditambah kru tiga ratus orang. Kapal pesiar sedang bisa mencapai jumlah penumpang antara 3.000 – 6.000 orang. Sementara jumlah kapal pesiar internasional yang beroperasi dari puluhan perusahaan yang ada mencapai ratusan kapal.
“Bisa dihitung berapa besar devisa negara yang berpotensi masuk, jika tiap hari ada puluhan kapal pesiar bersandar di berbagai pelabuhan kita. Besarnya kunjungan wisatawan akan menggerakkan ekonomi masyarakat yang ujungnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan warga,” tegas Ariyanto.
Ariyanto yang juga pengelola Pusat Oleh Oleh Bakpia Jogkem ini mengatakan bahwa selama ini beberapa pelabuhan di Indonesia memang sudah menjadi kunjungan kapal pesiar internasional. Namun bila dibandingkan dengan negara teatangga seperti Mexico, Singapura, Filipina dan Malaysia, kuantitasnya sangat jauh tertinggal.
“Kapal pesiar yang bersandar di Indonesia belum setiap hari dan belum banyak. Sementara pontensi Indonesia jauh lebih besar. Destinasi kita jauh lebih banyak, pelabuhan juga banyak sehingga memungkinan untuk bisa dikunjungi atusan kapal pesiar setiap harinya,” Arya menandaskan.
Lantas bagaimana agar kunjungan wisata kapal pesiar bisa bertambah baik frekuensi maupun kuantitasnya?
Ariyanto mengatakan bahwa hal itu butuh kerjasama dari semua komponen pariwisata yang terkait.
“Pemerintah harus membuat regulasi yang jelas dan memudahkan bagi kapal pesiar yang hendak merapat di semua pelabuhan kita. Dari puluhan pelabuhan yang ada, hanya beberapa saja yang layak untuk bersandar kapal pesiar internasional. Permasalahannya relative sama, yaitu tingginya tingkat endapan di laut dangkal dekat pelabuhan sehingga tingkat kedalaman laut tidak memadai bagi kapal besar yang hendak bersandar. Untuk mengatasi hal itu diperlukan pengerukan secara berkala agar kapal bisa bersandar sedekat mungkin dengan pelabuhan. Selain itu perhatian pemerintah terhadap pembangunan pelabuhan masih kecil, jauh dibawah pembangunan bandara-bandara internasional. Selama ini pembangunan pelabuhan masih sebatas pada pemenuhan kebutuhan domestik dan niaga, padahal potensi ekonomi dari bersandarnya kapal pesiar jauh lebih besar,” Arya mengakhiri perbincangan. (Tor)
